July 26, 2008

bahasa cinta saudara tua

Brotherhood

bismillahirrahmanirrahim.

lewat tulisan kadang-kadang ada hal yang bisa lebih mudah dikeluarkan, semisal tembok-tembok tak kasat mata yang menghalangi kata-kata untuk keluar dari kerongkongannku ini, tiba-tiba menjadi luluh dan segampang gampangnya aku tembus lewat diksi-diksi yang kurapal setengah seperti doa supaya sampai ke mata, telinga, dan hatimu bahwa ini bahasa cinta dari seorang saudara tua.

maka itu cerita-cerita doa ini kulukiskan dengan pelan-pelan saja, semoga bisa menjadi semacam pengikat, jalinan darah yang  merekatkan kita lewat ibu lewat ayah itu semoga menjadi bertambah-tambah kokohnya.

umur kita terpaut beberapa tahun hanya, naif memang jika aku menyebut-nyebut diri ini sebagai orang yang jauh lebih dewasa darimu, maka itu aku hanya akan bertutur jujur mengenai hari-hari yang dulu-dulu itu pernah aku lewati dengan bodoh, biar nantinya kau akan bisa mengambil apa-apa yang sekira perlu untuk jadi pedoman, menghindari apa-apa yang sekira rentan untuk dijadikan jalan.

Semata-mata karna hidup kita ini singkat, terlalu sedikit waktu untuk kita belajar dari kesalahan kita sendiri, maka belajarlah dari kesalahan orang lain!

Semata-mata karna hidup kita ini singkat, maka semoga kebodohanku ini menjadi semacam pahala karna telah dipelajari detil-detilnya olehmu, dan oleh siapa saja.

ah………. tiba-tiba aku merasa seperti tua dek,

maka lewat diam kadang-kadang ada hal yang bisa lebih mudah dikeluarkan, semisal sumbat-sumbat tak kasat mata yang menghalangi kata-kata untuk keluar dari penaku ini tiba-tiba menjadi luluh dan segampang gampangnya aku tembus, lewat doa, supaya sampai ke mata, telinga, dan hatimu bahwa ini cinta dari seorang saudara tua.

                            

no turning back

Water_flow_close_zen_16x12 there comes a time in every journey, when u realize there’s no turning back.

waktu liburan bulan ini, aku reuni dengan teman2 masa kuliah, dan bercerita banyak tentang kehidupan baru yang kami “dapatkan” sekarang ini.

“destiny men…. destiny……” selalu itu guyonan konyol yang kami kelakarkan setiap kali bertemu.

bagaimana tidak berteriak lantang “destiny… destiny…” kalau ternyata orang yang dulu tidak pernah kami sangka2, orang yang selalu diluar lingkaran kandidat pemegang ipk termaut, atau diluar lingkaran aktivis kampus organisatoris yang selalu punya retorika menggelegar, juga diluar lingkaran nama-nama yang akan mudah diingat karna dia orang yang selalu vokal dan punya peran penting dalam kehidupan ke-kampusan kami ini, ternyata digulirkan oleh takdir untuk menjadi the choosen, satu dari sedikit orang yang terpilih untuk masuk sebuah perusahaan minyak yang punya nama itu.

takdir berjalan dengan cara yang tidak diduga-duga…. terkadang itu benar-benar menohok, dan membuat kami-kami ini kadang tersenyum, kadang tersenyum sambil melongok, susah aku menggambarkan bagaimana kenampakan orang yang tersenyum sembari mengerutkan kening dan berpikir “lha…. kok si anu malah gini tapi si anu malah gitu??”

no turning back……
seorang teman ditakdirkan terdampar di halmahera….
yang lain di belantara aceh
ada yang di tengah rimba sulawesi
ada yang di hiruk pikuk jakarta
ada yang bolak-balik antar pulau,
ada yang meneruskan studi di sebrang lautan
ada yang masih berjibaku untuk lulus dari kampus
ada yang bentar lagi married

ada sisi-sisi dimana lembar kehidupanmu itu tidak selalu bisa kamu pastikan kemana arahnya…….

lalu kami-kami ini mencoba mengeja terbata-bata. Lalu bercerita lagi dalam ketawa-ketiwi pelan sambil menyeruput teh seduh dari poci. Kita ini kan manusia yang akan terus berjuang berbuat yang terbaik yang kita bisa, tapi bagaimanapun juga, Dia yang maha segala maha.

dalam setiap perjalanan panjang kita, akan ada masanya dimana kita tiba-tiba sadar bahwa kita sudah tidak mungkin surut ke belakang. pilihan kita hanya tetap maju, atau hilang sirna dalam pencarian panjang ini.

tapi setidaknya “sekali berarti, setelah itu mati”

July 18, 2008

puzzle dunia

puzzle

Dulu sekali, seorang kawan pernah berkirim surat padaku, dan bertanya “apakah wajar, dengan usia kita yang sudah sebegini, kita masih terus mencari jati diri?”.

Waktu itu, kutanggapi pertanyaan temanku itu dengan main-main saja. Tapi kok rasanya akhir-akhir ini aku jadi merenung sendiri dan berpikir bahwa memang pencarian panjang kita akan jatidiri adalah hal yang luarbiasa rumit.

Sampai sekarang, aku masih yakin benar bahwa pencarian jatidiri adalah proses panjang yang akan bergulir seiring waktu kehidupan kita yang terus menua.

Hidup ini, kan seperti ekspedisi mencari potongan puzzle kita yang terserak morak. Setelah separuh usia kita jalani ini, dengan susah sungguh sudah kita dapatkan keping-keping teka-teki kita masing-masing, lalu menyusunnya dan mengira-ngira gambarnya.

Sangat mungkin, di separuh sisa usia kita berikutnya, kita temukan lagi kepingan-kepingan lain, yang bisa jadi merubah total gambaran kita sebelumnya.

Jadi, kawan, aku sama sekali tidak pernah menganggap bahwa segala kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan kita yang terus mengalir itu, atau segala perenungan-perenungan panjang kita sebagai pertanda bahwa kita ini manusia gamang yang tidak punya jatidiri. Sama sekali tidak!!

Karna pencarian ini, kawan, akan terus berlangsung sepanjang usia kita, seiring nafas dan nadi yang semakin lamur.

Nantinya. Kita-kita ini yang akan resapi betul pepatah orang-orang tua dulu, bahwa “belajar itu sepanjang hayat”, katanya.

Sejatinya, bahwa satu-satunya hal yang tidak pernah berubah di muka dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Dan setiap mentari baru yang menyeruak dalam hari-hari kita esok, kita ingin seperti isaac newton. Tatkala ribuan orang melihat apel jatuh, hanya kita yang bertanya “mengapa??”.

Lalu kita dapat satu keping puzzle lagi hari ini, iya kan??

April 22, 2008

mungkin ini rindu

Laut_tenang

Senja masih putih, masih bersih.Semburat merah yang biasa itu masih ragu-ragu menimbang-nimbang, kiranya akan tertunda atau muncul lebih mula.

Nostalgi-ku waktu itu bergerak seperti kapal nelayan kecil di ujung sana. Tenang menyusur tempias ombak menuju tepian memori redup-redup.

Hari sepertinya belum pernah setenang ini, awan-awan putih bersinar terang di pinggir-pinggirnya, lalu berarak tenang seperti bergerak seperti diam.

Tiba-tiba aku merasa asing, rasa-rasanya aku ingin meloncat, dan berlari meniti hampar laut. Ingin kuceritakan pada bunda di belah dunia sana, bahwa betapa anaknya saat ini mengembara di negri-negri yang entah dimana.

Rasa-rasanya ingin melompat aku menangkap camar-camar hitam putih itu, lalu kulayangkan pada adik-adikku, kupesankan untuk bercerita bahwa kakaknya telah menempuh perjalanan separuh dunia.

Mungkin ini, rindu dalam sastra-sastra para pujangga, waktu tiba-tiba hatimu merasakan luasnya dunia dari sudut cakrawala, tapi tak tahu harus bercerita pada siapa.

Seperti waktu kailmu mengena ikan besar di laut kehidupan itu, tapi tak jua kau tarik, karna tiba-tiba hatimu bertanya “dengan siapa aku memakannya?”

Mungkin ini, rindu dari senandung syair negri-negri jauh, waktu senja tiba-tiba terasa begitu putih dan kau berlari diatas hampar ombak naik-turun-naik-turun, sembari menggenggam burung-burung camar, lalu menatap di kejauhan sana ada seorang putri.

janji wisudawan

 














Ada rasa haru yang dalam saat mengenakan toga dan topi segilima waktu wisuda itu.Sebenarnya terlihat lucu, pakaian toga itu, dan segala asesorisnya, tapi biarlah aku berkhusnudzon saja bahwa segala hal itu adalah mewakili makna makna tertentu, segilima mewakili sesuatu dan juga jubah seperti penyihir itu mewakili sesuatu.

Saat orang tuaku hadir setelah menempuh perjalanan 24 jam bengkulu bandung, dalam sebuah bus yang penuh, dengan membawa bekal uang seadanya, ada perih menyayat dalam hati.

Pada malam harinya aku merenung dalam, inilah rupa-rupanya kenapa kebijakan universal dari dulu itu mewajibkan kita untuk sedalam dalamnya hormat pada kedua orang tua kita.

Tetes peluh keringat dan airmata mereka tidak bisa kita kumpulkan dan analisa statistiknya.

Doa-doa malam mereka masih jauh dari nalar kita, tentang bagaimana suara hati mereka itu lalu menjelma nada2 hening dalam malam2 sunyi senyap, lalu sampai pada kita nun disebrang lautan sana.

Untuk membantu kita menepis kantuk tengah malam demi beberapa lembar skripsi,
untuk membantu kita bertahan dari setiap lelah tak berujung sepulang kuliah kita,
untuk mendekap hangat ringkuk kita waktu kita benar-benar sendiri,
dan menopang kaki-kaki rapuh kita dalam perjalanan luar biasa panjang ini hingga kita merasa cukup tegar untuk tetap berdiri dan berjalan lagi…….. berjalan lagi……….. berjalan lagi.

Mengingat raut wajah mereka saja sudah menyulut bara dalam setiap renung kita, lalu kita berjanji sepenuh hati, bahwa segala kebodohan kita waktu masih sekolah dulu adalah masa lalu yang sekuat tenaga akan kita rubah,
segala bantah-membantah kita waktu masih kecil dulu adalah ketidakmatangan yang sepenuh hati kita akan gantikan dengan pengertian-pengertian.

Linang air mata bangga mereka hari wisuda itu mematri janji dalam hati paling dalam.

“bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa, dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita”.

STOP

Mountain

We are all climbing different paths through the mountain of life,
and we have all experienced much hardship and strife.



There are many paths through the mountain of life,
and some climbs can be felt like the point of a knife.



Some paths are short and others are long,
who can say which path is right or wrong?



The beauty of truth is that each path has its own song,
and if you listen closely you will find where you belong.



So climb your own path true and strong,
but respect all other, truths for your way for them could be wrong.

-Dan Inosanto

kita dikelilingi orang-orang besar (5)

Watchingandwaitingresized

Sungguh, sesulit apapun masalah dan ujian yang kita hadapi. Seberapa membelit-belitnya perasaan yang kita alami, jikalah kita mau menyempatkan diri untuk sebentar menengok kiri kanan, maka akan kita dapati bahwa beribu-ribu orang di sekitar kita memiliki masalah yang luar biasa pelik dan membuat kita malu untuk telah menganggap sentilan kecil dalam lika-liku panjang kita ini sebagai masalah.

Pak win…..
Begitu orang biasa memanggilnya.
Beliau ini adalah seorang tentara, kalau tidak salah, seingatku Pak win adalah seorang kopassus. Tapi jauh sekali dari gambaran kopassus yang terekam di benak kita. Pak win sudah tua. Tua sekali. Tapi meskipun tua, pak win tidak pernah kurang rasa humornya, dan selalu menganggap semua orang yang lebih muda dari beliau sebagai orang yang lebih terpelajar.

Pak win ditugaskan sebagai security pada sebuah fasilitas ground control (waste management, fasilitas pengolahan limbah hasil pemboran minyak lepas pantai, tempat dimana aku terkadang ditugaskan bekerja).

Hari ke hari mengenal seorang Pak Win, aku semakin kagum.
Beliau bertugas di kalimantan timur, padahal rumahnya adalah di jawa. Dan tahukah kamu kawan, seberapa lama dia harus bertugas??? dia sudah bertugas lebih dari dua tahun dengan jadwal kerja 3 bulan satu minggu. Artinya dia wajib bekerja selama tiga bulan dan setelah itu dapat liburan satu minggu untuk pulang ke jawa. Tentu saja itu adalah di atas kertas, jadwal sebenarnya adalah terus bekerja tanpa tahu kapan dia berhenti dan tanpa tahu kapan dia bisa bertemu keluarga.

Entah ketegaran sekeras intan atau keterpaksaan yang merantai membuat dia sanggup menjalani jadwal semacam ini. Sudah coba kutimbang-timbang, dan coba2 kurasa-rasa, bagaimana jika aku menjadi Pak Win????
Wah….. bisa mampus aku, apa rasanya 3 bulan bekerja di negri orang, dan tak bisa ketemu keluarga?? lalu libur yang hanya satu minggu itu pula terkadang dikebiri, dipotong, habis seperti arang binasa…… tapi kesabaran itu menjelma jadi wujud seorang bapak tua mantan kopassus yang senang mancing pagi2 dan sore2, lalu bercanda dengan para karyawan2 yang lebih muda2 dan terpelajar2, lalu mengajarkan tawa dan arti hidup pada kita, seperti apa yang namanya “tegar” itu, lalu menghabiskan malamnya dengan sendiri lagi dengan sendiri lagi…….. sepi…….. senyap.

Lalu menyampaikan salamnya pada istri dan anak2 tercintanya dengan kiriman uang awal bulan…….

Lalu dengan setia melambaikan tangan kepada kami yang pulang pergi dari sana

” Mas rio… sampaikan salamku pada Jawa” katanya….

be water my friends!!!

Water_rippling

Suatu kali, bruce lee pernah mengeluarkan pernyataan “be like water”.

Dalam banyak kesempatan bruce lee mengingatkan murid-muridnya untuk berprinsip seperti air.

“if you put water into a cup, it becomes a cup. You put water into a bottle, it becomes the bottle. You put water into a teapot, it becomes the teapot. The water can flows, or it can crush. BE WATER MY FRIENDS”

begitu kurang lebih kata si dedengkot kungfu itu.

Dalam banyak kesempatan, biasanya dalam kesendirian, atau dalam masalah yang sangat berbelit (biasanya berhubungan dengan orang lain), aku terkadang senyum-senyum sendiri kalo inget falsafah itu.

Wah… ini dia testing filosofi bruce lee, pikirku.

Banyak sekali hal yang pernah kita alami, mengharuskan kita untuk fleksibel dan selalu bisa menyesuaikan diri dengan orang lain.

Banyak juga hal yang mengharuskan kita untuk benar-benar bisa memilih, kapan kita “flows” kapan kita harus bikin “crush”.

Sadar betul kalo pemahaman seperti ini penting, maka aku -dengan meniru gaya bruce lee - bercerita kepada adik-adikku dan berpesan “be water my brothers“.

lalu tiba-tiba mereka menyela….

“lho…. kalo air dalam gelas kan bisa diwarnai mas???”

walah… iya juga ya??? Tapi spontan saja aku langsung menjawab

“maka itu, jadilah mata air yang mengalir deras”

hehe…….. ini adalah pembelajaran tiada henti, kita juga harus pandai berimprovisasi kan my friends?

tapi tetep….. “the water can flows… or it can crush”

BE WATER MY FRIENDS!!!!! :-)

dari tepuk tangan paling kencang

Tidak begitu banyak aku mengetahui nama-nama penyair besar negri ini, dari sekian banyak itu aku hanya tahu segelintir saja, dari yang segelintir itu hanya beberapa saja yang aku pernah baca lebih dari satu karyanya.

Kebanyakan aku mengenal mereka hanya dari potongan-potongan karya mereka yang sangat terkenal seperti puisi “aku ingin mencintaimu dengan sederhana” karya pak sapardi.

Salah seorang penyair indonesia yang aku kagumi adalah mbak helvy tiana rosa. Sama seperti kebanyakan penyair lain yang aku tahu, aku juga tidak sempat membaca banyak karya dari beliau ini, beberapa karyanya yang pernah aku baca seperti “lelaki kabut dan boneka” juga tidak aku baca hingga selesai, dan sebagian karya lainnya yang juga pernah aku baca, malah aku sudah tidak ingat lagi sekarang.

Jauh dari kapasitas seorang kritikus sastra aku ini, makanya sulit buatku untuk menilai kapasitas kepenyairan seorang helvy tiana rosa, kalau boleh jujur, dari segelintir karyanya yang aku pernah baca itu, tidak pula karya itu sempat menohok batinku dalam-dalam, rasanya biasa saja, kalaulah tidak aku katakan bahwa sebagian tidak aku mengerti, karna memang beliau ini punya sasaran pembaca yang jauh dari level seperti aku, mungkin.

Hal yang membuat aku mengagumi seorang mbak helvy adalah perjuangan keras dia untuk mengangkat ranah seni islami (yaitu cerpen, kebanyakan) hingga mendapat perhatian dari banyak kalangan (kalangan sastra, dan bahkan kalangan islam itu sendiri).

Karya sastra islam, dulu itu sangat marginal. Siapa yang mau berkeringat untuk mengusahakan penerbitan cerpen atau mengurusi sastra-sastra semacam puisi dan lain-lain? Nyaris tidak ada, sebagian orang menganggap itu hal mubazir dan membuang waktu, sebagian yang lain mungkin lebih ekstrim mengangap itu thaghut. Sebagian yang lain menghabiskan waktunya dengan merenung, kapan bisa bangkit kesempatan kita untuk menampilkan wajah seni islam itu dengan lebih manis dan tanpa ribut sana ribut sini?

Aku termasuk golongan yang terakhir itu, yang menghabiskan hari dengan merenung dan segala teori tentang kenapa sastra kita tidak bisa mendunia, lalu berteori lagi tentang bagaimana meledakkan semua potensi kita dalam sastra, siapa yang akan memberikan perhatiannya terhadap sastra?? Mbak helvy, untungnya juga temasuk dalam golongan yang ketiga itu, tapi beliau tidak berhenti sebatas merenung, beliau bermimpi yang lebih besar dari orang2 sepertiku, dan beliau bergerak mewujudkannya.

FLP (lembaga kepenulisan yang beliau bentuk itu), sekarang sudah menggurita dan jadi besar luar biasa, sastra islam sekarang sudah jadi hal yang bahkan tidak asing untuk remaja-remaja modern dan ngegaul sana-sini. Mimpi mbak helvy sekarang sudah jadi, dan beliau pasti masih sedang bermimpi lain lagi, dan bergerak lagi.

Tak pernah habis kekagumanku untuk orang-orang seperti mereka, darimana mereka petik semangat menggelora tak kira-kira itu?

Jadi mbak, meski aku jarang sekali membaca karyamu, tapi aku sepertinya resapi juga puisi-puisi perjuangan kalian-kalian itu, lalu di barisan penonton yang membludak ini, aku di sudut sana adalah yang bertepuk tangan paling kencang.

pertanyaan ayam

14

kalaulah aku ini induk ayam, mungkin aku sudah menjadi induk yang bingung. Pertanyaannya adalah, kapan kita harus mematuk anak2 kita?

tapi tentu saja kita bukan induk ayam, teman. Tapi untuk urusan mematuk rasa-rasanya kita harus tetap memikirkannya.

Terkadang, meskipun belum menikah, aku sering memikirkan seperti apa kebijakan dan kebeningan mata hati yang harus aku punyai jika nanti memiliki anak dan menimang-nimang kapan saatnya dia kita biarkan dewasa?

seringkali tanpa sadar kita itu seperti terlalu protektif, dengan adik kita, dengan generasi bimbingan kita di kampus, dengan murid les, atau dengan siapa saja.

Mungkin ini juga yang kadang2 bikin kita sering selisih paham dengan orang tua yang seperti terlalu banyak mendikte kita -mungkin-, atau ini juga yang bikin kita seringkali menganggap bahwa adik2 kelas kita di masa ospek itu adalah generasi yang lebih cengeng -karna kita bisa melalui “binaan” yang jauh lebih “mantap” dari mereka-.

Mungkin orangtua kita terlihat seperti banyak mendikte kita itu karna rasa sayang yang luar biasa kepada anak-anaknya ini, sehingga mereka belum percaya kalau kita ini sudah siap “dipatuk” dan dibiarkan bermain lepas sendirian.

Atau mungkin juga kita yang memandang picing ke adik-adik kita yang terlihat rapuh itu adalah kenyataan bahwa kita belum begitu bijak dan “kebanyakan mematuk” mereka, padahal mungkin dunia sudah berbeda dan tantangan sudah berbeda.

Ah…. bersyukur juga kita ini tidak dijelmakan menjadi induk ayam ya? Pusing juga kalau kita ini benar-benar harus mematuk dalam kehidupan dan arti kata yang sebenarnya.

Seperti suatu ketika, adikku nomer dua bercita-cita lucu. Dia ingin beli sepatu, dengan segala retorika lucunya, dia berkoar bahwa sekarang ini sudah tidak mode lagi jika anak smp jalan2 pake sendal, yang sedang ngetrend itu jalan2 ya pake sepatu, katanya.

Aku hanya senyum2 sendiri, lalu dia berujar sendiri, “mulai saat ini, aku bakal ngumpulin uang lebih banyak lagi”. Lalu tanpa kukira, separuh perjalanan dari sekolah ke rumah (yang harus ditempuh dua kali naik angkot itu), dia tempuh berjalan kaki.

Luar biasa, dia bisa menghemat lebih banyak uang dengan jalan konyol ini.

Aku tersenyum sendiri, sebenarnya lebih mudah jika kubelikan saja sebagai hadiah, sebuah sepatu seperti yang dia mau. Tapi ada kekuatan tekad dibalik semangat dia itu, teman.

Jadi aku biarkan saja dia menikmati perjuangannya.

Sampai suatu ketika dia pulang sekolah dengan sangat letih. Ini tidak biasa, pikirku. Setahuku dia itu sangat enjoy dengan perjuangannya itu, lalu kenapa hari ini mengeluh?

Usut punya usut ternyata itu hari senin, sembari berjalan kaki dan menghemat demi cita-cita itu, ternyata dia puasa senin kamis.

“sabar ya dek” aku membatin sendiri, semoga ini “patukan” yang benar, dengan timing yang benar.

rasa-rasanya ayam lebih pintar ya??

February 14, 2008

blog yang tidak mengeluh

Saat pertama kali terpikirkan untuk menulis sebuah blog, hal yang terpikirkan setelah itu adalah bagaimana caranya agar apa yang kita tulis di blog -yang menurut kita menarik- membuat orang lain tertarik.

Pada kenyataannya tidak semua yang menarik bagi kita itu juga menarik bagi orang lain.

Awal-awalnya, blog itu mungkin semacam diary online, tempat menampung semua keluh kesah kita yang dulu biasanya disimpan sendiri, kini dalam batas-batas tertentu kita coba bagi dengan orang lain, atau lebih dramatisnya kita bagi dengan orang sedunia.

Satu hal yang aku sedapat mungkin coba adalah bahwa blog ini harus memberikan pelajaran kepada orang lain, ada hikmah yang dapat dinikmati barang satu dua teguk.

Meskipun ini adalah -bagaimanapun- sebuah diary online, tetap aku kurang setuju dengan ide mengeluh pada orang sedunia. Blog ini bukan tempat mengeluh. Orang sedunia ini sudah cukup punya masalah masing2 tanpa direcoki pula dengan masalah kita, apa pentingnya mereka mendengar semua keluh kesah kita?

Tapi bagaimanapun juga, inilah yang mungkin jadi alasan kenapa orang membuat diary kecil mereka jadi terbuka bagi orang sedunia. Alasan berbagi!

Maka bolehlah satu dua kali kita mengeluh dan berkesah pada diary jejaring ini, tapi kita adalah orang-orang yang dalam hati sekuat mungkin bertekad, bahwa dalam setiap tulisan kita pada akhirnya ada pelajaran bermakna yang  kita bagi.

Setiap keluh dan kesah kita ditutup dengan paragraf semangat untuk bangkit dan bergerak lagi.

Setiap cerita sedih kita diapit dengan dua tawa.

Setiap kesendirian kita diisi dengan keyakinan berkarat bahwa kita bisa untuk tetap luar biasa.

Tapi bagaimana jika semua terasa terlampau mengiris dan menusuk-nusuk?

Maka setiap keluh dan kesah dalam tulisan kita akan diakhiri dengan doa sedalam-dalamnya, pada Dia penuntas segalanya.

Inilah tulisan kita, teman.

Sejumput Blog yang tidak mengeluh.

January 27, 2008

restart

Treefullmoon

Teman, sering kali waktu cerita hidupku ini sedang tak bisa aku raba dan cari tahu kemana arah larinya, atau juga saat-saat dimana semua babak terasa tiba-tiba begitu menjemukan dan seperti bergulir tanpa seni, aku merasa bahwa aku harus “Re-Start”.

Waktu rembulan sudah terlihat seperti biasa-biasa saja, atau bebintang malam seperti kurang gemerlap, waktu itulah aku bergeser pelan dari dudukku, lalu berjalan berapa jauh langkah untuk melihatnya dari belah bukit yang lain, atau dari sela-sela jejurang, atau dari pematang-pematang.

Kita seringkali sama-sama bosan dan jenuh, bahwa drama kehidupan kita ini, teman, berjalan dengan babak-babak yang selalu bisa kita tebak, atau jika episodenya baru maka pastilah membuat kita seperti lupa naskah, di babak mana kita harus terhenyak? dan dibabak mana pula kita harus pulang? Tapi kita lupa pula jalan pulang? Iya kan?!!

Mari kita sama-sama berdoa, menundukkan sejenak kepala, pundak, lutut, kaki, mata, hati kita, lalu meminta sebenar-benarnya.

Besok pagi kita jalan sama-sama, barang selangkah, dua, tiga atau beberapa, sampai kita lihat dunia dari sudut yang berbeda.

Hingga belum pernah hari kita seindah menaiki bus siang-siang dipanggang mentari terik-terik.

Belum pernah seindah belajar di kampus sepenat-penat, hingga senja hampir lewat.

Belum pernah seindah kerja sesuntuk-suntuk di kantor-kantor hiruk pikuk.

Belum pernah seindah sendiri menyambut hari yang seperti kemarin-kemarin lagi.

Belum pernah seindah memandang bulan dari sudut rumah tenang, ada kunang-kunang terbang di kiri dan kanan kita, lalu gemerlap bebintang muncul redup muncul redup dari angkasa sana.

Alhamdulillah.

mengubur masa lalu

Masa_lalu

Setiap detik aku bergulat dengan waktu dan menjadi gelap dibawah bayang-bayang masa lalu.

Dari setiap bercak-bercak kotor dosa yang membekas hitam di setiap lembar waktu yang telah terlewat itu, aku jadi malu sendiri, lalu beringsut dari kumpulan mereka-mereka yang bersih putih itu. Rasa-rasanya syurga meski diemperannya saja tetap tak layak buatku.

Kutarik nafas pelan di setiap senja-senja yang tenang dan ramah itu, dari warna merah tembaga yang terpapar di laut yang beriak manis di ujung sana aku bercermin dan merenung, sudah satu hari lagi lembar hidup yang kujalani dengan tergesa, membuka pagi dengan terkejut luar biasa, lalu menyongsong sore dengan belum berbuat apa-apa.

Ah….. Tuhan, rasanya dunia ini dalam segala-gala lebih bersih dari kami.

Dengan apa kubersihkan sisa luka dosa yang menganga?

Terhuyung-huyung aku berlari, lalu berwudhu dengan apa saja, air, debu, angin, tawa dan air mata.

kita semakin sulit tertawa

200208_laugh

Seringkali, saat sedang nonton tv bersama para kru, atau sedang berbincang-bincang ringan, aku mengamati hal-hal yang membuat mereka tertawa. Misalnya tontonan tv.

Pada mulanya, aku mengira bahwa orang-orang seperti mereka adalah orang-orang yang selera humornya rendah, maksudku mereka itu gampang sekali tertawa oleh tontonan yang ga lucu menurutku.

Semisal ada acara tv yang memperlihatkan orang jatuh karna terpeleset kulit pisang, maka kontan mereka semua akan tertawa. Padahal itu menurutku tidak lucu. Semisal lagi saat ada seorang dari mereka ada yang sedang mancing dan umpannya habis, mereka tertawa, padahal itu kan tidak lucu juga.

Hipotesa awalku adalah bahwa tingkat rasa humor seseorang mungkin akan semakin berubah seiring dengan perkembangan tingkat pendidikannya. Kita mungkin akan tertawa jika melihat guyonan cerdas semisal acara republik mimpi di metro tv atau guyonan kick andy, tapi mereka akan tertawa pada hal-hal yang sangat sederhana.

Tapi, semakin kesini aku semakin berubah pikiran. Kulihat bahwa cara mereka tertawa, dan sebab mereka tertawa, itu juga ada korelasi dengan cara mereka menilai dan menghadapi hidup.

Mereka-mereka itu menikmati hidup ini dengan santai dan luar biasa ceria. Sesederhana mereka tertawa karna hal-hal yang remeh temeh itu. Bangun pagi dan melihat laut beriak, mereka tersenyum dan tertawa, “wah…banyak ikannya pasti pagi ini” kata mereka. Sedang kita bangun pagi lalu menjalani rutinitas biasa dan tidak tertawa pada apapun, kecuali dosen kita mengeluarkan guyonan cerdas tingkat tinggi tentang Einstein atau bos kita mengeluarkan guyonan tentang naik gaji.
Mereka menghadapi siang terik yang panas ga karu-karuan dengan tertawa karna melihat temannya mandi keringat, “mirip kuda nil” kata mereka tanpa niat mengejek. Dan kita menghadapi siang dengan mengeluh akan ozon yang semakin menipis, kita baru tertawa jika ada lelucon cerdas tentang pemanasan global.

Kenapa ya, kita semakin sulit tertawa menghadapi hidup ini. Jangan-jangan kita mulai lupa bagaimana menikmati hidup.

Aku permisi sebentar ya, rasa-rasanya aku ingin tertawa karna koneksi internet yang lama ini, haha…..

Kamu tertawa juga ya??

Engkau pasti masih tersenyum hingga kini

Walkinthewood

Kami berlindung kepadamu dari saat-saat dimana kami sedang tidak ingat, dari waktu-waktu dimana hati ini terbalik serendah-rendahnya. Jadikan doa disaat ingat seperti ini jadi penjaga diwaktu lupa, diwaktu khilaf se khilaf-khilafnya.

Hari ini biarkan hidup kami jadi berarti, ajarkan kami untuk selalu bersyukur atas setiap hirup nafas, atas setiap terpa mentari yang membelai-belai hangat kulit kami, atas setiap tetes keringat yang terkucur siang nanti untuk sebuah rezeki yang telah kauhamparkan berhamburan tak alang kepalang banyaknya di dunia ini. Lalu jadikan sore nanti kami merasa cukup atas setiap yang tergenggam di telapak tangan. Jadikan mimpi kami nanti malam adalah cita-cita mulia yang baik, yang bersujud dalam-dalam atas anugrahmu.

ini cita ya Rabb, jangan jadikan keinginan tumbuh dan berkembang kami ini seperti kufur atas setiap hari-hari yang masih kau biarkan bergulir.

Esok harinya biarkan kami mulai pagi dengan senyum, sambil menyapa semua yang tak seberuntung kami, lalu membagikan sedikit dari apa yang kami genggam kemarin sore. Jadikan kami sepelupa-pelupanya, biar kami tak mengingatnya dalam setiap rukuk sujud rukuk sujud kami, entah siang sore atau malam hari nanti.

Dan hari-hari yang terus datang esok itu ya Rabb, kuatkan tapak kami untuk menjejak ke tanah, biar kami tetap terpa semisal badai datang menerjang atau semisal kerikil terserak-serak. Anugerahkan saja kepada kami teman setia semanis madu bunga, biar tak terasa apa-apa yang menghadang di jalan sejauh pandang, lalu kami bersyukur untuk telah Kau anugerahkan dia padaku dan untuk dia dianugerahkan aku padanya.

Nanti pada waktu kami terjerembab tersungkur dan jatuh berkali-kali, biarkan kami ingat senyumMu waktu pagi, siang, sore dan malam dulu-dulu itu. Lalu kami berjanji berjalan lagi.

Engkau pasti masih tersenyum hingga kini.